Pemulihan pascabencana di wilayah Aceh Tamiang masih terus berlangsung. Berbagai pembangunan ulang fasilitas umum, perbaikan sarana, dan penyaluran bantuan terus diupayakan agar kehidupan warga bisa kembali berjalan. Namun di balik bangunan yang rusak dan infrastruktur yang hancur, ada hal lain yang tidak selalu terlihat, mental dan rasa aman masyarakat, terutama anak-anak, yang ikut runtuh akibat trauma bencana.
Hujan yang dulu dianggap biasa, kini memicu rasa takut. Suara air yang deras membuat sebagian anak teringat kembali pada momen saat banjir bandang datang, merenggut harta benda, memisahkan keluarga, dan memaksa mereka memulai hidup dari nol. Di tengah kondisi akses bantuan yang tidak selalu mudah dan proses bangkit yang pelan, pemulihan psikologis menjadi kebutuhan yang sama pentingnya dengan bantuan fisik.
Melihat kebutuhan tersebut, tim relawan dari BAZNAS Kota Tangerang Selatan melalui program tanggap bencana menghadirkan layanan trauma healing dan dukungan psikososial untuk anak-anak di Desa Sekumur. Saat para orang tua berjuang mengurus bantuan dan menata ulang kehidupan, relawan mengambil peran untuk menjaga semangat dan keceriaan anak-anak agar tidak padam.
Kegiatan dilakukan dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan. Sesi diisi dengan permainan, teka-teki, cerita interaktif, belajar santai, dan aktivitas penuh tawa. Tidak ada tekanan, tidak ada suasana tegang, yang ada hanya ruang aman untuk anak-anak kembali merasa nyaman. Tawa lepas mulai terdengar, canda kembali muncul, dan perlahan rasa percaya diri mereka tumbuh lagi.
Di sela kegiatan, beberapa anak mulai berani bercerita. Mereka mengisahkan bagaimana air datang tiba-tiba, bagaimana mereka berlari, apa yang mereka selamatkan, dan apa yang mereka rasakan saat itu. Cerita-cerita tersebut menjadi bagian penting dari proses pemulihan. “Adik-adik tidak hanya butuh bantuan barang, tapi juga didengar dan dipeluk perasaannya. Mereka bisa tertawa lagi, itu tanda harapan mulai kembali.” Ujar Dedeh, Relawan BTB Kota Tangerang Selatan.
Para orang tua pun menyambut kegiatan ini dengan haru. Banyak yang menyampaikan rasa terima kasih karena melihat perubahan pada anak-anak mereka dari yang sebelumnya murung dan mudah cemas, menjadi lebih ceria dan mau berinteraksi kembali. Kebersamaan, perhatian, dan ruang bermain sederhana ternyata menjadi obat awal yang sangat berarti.
Pemulihan bukan hanya membangun ulang gedung dan jalan, tetapi juga menata kembali hati dan keberanian. Dari tawa kecil yang kembali muncul, harapan besar sedang ditumbuhkan pelan-pelan.
